Membuat ringkasan berita TV berarti menonton siaran, mencatat poin penting, lalu menyusunnya jadi tulisan pendek yang bisa dipahami orang yang tidak menonton. Urutannya sederhana: catat sambil menonton, pilah mana fakta dan mana opini, susun jadi beberapa poin, lalu periksa kembali sebelum dibagikan.
Bagian tersulit biasanya bukan menulis, tapi memutuskan apa yang dibuang. Siaran berita berjalan puluhan menit dan tidak semua isinya perlu masuk ringkasan. Panduan berikut memecah prosesnya jadi langkah yang bisa diikuti siapa saja, termasuk yang baru pertama kali mencoba.
Siapkan alat catat sebelum siaran dimulai
Menulis ringkasan sambil menonton lebih mudah kalau alatnya sudah siap. Buka satu dokumen kosong dan bagi jadi beberapa kolom: waktu tayang, topik, narasumber, dan poin utama. Kolom waktu berguna untuk menemukan kembali bagian tertentu kalau kamu perlu memutar ulang rekaman.
Kalau siaran disiarkan langsung, siapkan juga cara merekamnya. Banyak layanan siaran menyediakan tayangan ulang, jadi kamu bisa mengecek bagian yang terlewat tanpa harus mengandalkan ingatan. Untuk pemula, mencatat sambil menonton langsung lalu menyempurnakan catatan dari tayangan ulang jauh lebih akurat daripada hanya mengandalkan memori.
Catat sambil menonton, jangan menunggu selesai
Kesalahan umum pemula adalah menonton sampai habis baru menulis. Akibatnya, detail seperti nama, angka, atau lokasi kejadian sering tertukar. Catat poin singkat setiap kali sebuah segmen berpindah topik. Tidak perlu kalimat lengkap, cukup kata kunci yang nanti bisa kamu kembangkan.
Ada beberapa hal yang sebaiknya selalu kamu tulis saat menonton:
- Topik atau peristiwa yang dibahas
- Lokasi dan waktu kejadian jika disebutkan
- Nama narasumber beserta jabatannya
- Angka yang disebut, seperti jumlah korban, nilai transaksi, atau persentase
- Pihak yang memberi pernyataan berbeda atau menolak berkomentar
Untuk angka, tulis apa adanya saat itu. Jangan dibulatkan atau ditaksir sendiri. Kalau presenter menyebut “sekitar dua ribu”, tulis “sekitar dua ribu”, bukan “dua ribu”. Perbedaan kecil seperti ini sering jadi sumber salah paham saat ringkasan dibaca orang lain.
Pilah fakta, klaim, dan opini
Isi siaran berita bercampur. Ada pernyataan pejabat, ada klaim pihak yang berselisih, ada juga komentar pengamat. Ketiganya perlu diperlakukan berbeda dalam ringkasan.
Fakta adalah hal yang bisa diverifikasi, misalnya sebuah rapat digelar pada tanggal tertentu. Klaim adalah pernyataan seseorang yang belum tentu benar, misalnya tuduhan sebuah pihak terhadap pihak lain. Opini adalah penilaian, biasanya datang dari pengamat atau pembawa acara. Tandai ketiganya dengan warna atau simbol berbeda di catatanmu.
Saat menulis ringkasan, sebutkan siapa yang mengucapkan sebuah klaim. Kalimat seperti “pihak A menuduh pihak B melanggar aturan” jauh lebih aman daripada “pihak B melanggar aturan”. Pembaca bisa menilai sendiri, dan kamu tidak mengambil alih posisi hakim.
Susun ringkasan dengan urutan yang mudah diikuti
Ringkasan yang baik biasanya dibuka dengan inti peristiwa dalam dua sampai tiga kalimat, lalu diikuti detail pendukung. Tutup dengan informasi yang belum jelas atau langkah selanjutnya, misalnya penyelidikan yang masih berjalan.
Panjang ideal untuk satu peristiwa sekitar 100 sampai 150 kata. Kalau topiknya besar, pecah jadi beberapa bagian dengan subjudul pendek. Hindari menyalin kalimat pembawa acara persis, karena bahasa lisan jarang enak dibaca.
Kalau kamu rutin merangkum siaran, menyimpan catatan lama akan sangat membantu. Beberapa situs menyediakan rangkuman harian yang bisa jadi pembanding, seperti pada ringkasan berita TV hari ini dan jadwal acara unggulan. Bandingkan catatanmu dengan rangkuman itu untuk melihat bagian mana yang kamu lewatkan.
Periksa ulang sebelum dibagikan
Sebelum ringkasan dipublikasikan atau dikirim ke grup percakapan, lakukan pemeriksaan singkat. Ada beberapa hal yang perlu dicek:
- Nama orang, lembaga, dan tempat sudah benar ejaannya.
- Angka dan tanggal sesuai dengan yang disebut di siaran.
- Setiap klaim sudah disertai keterangan siapa yang mengucapkannya.
- Tidak ada kalimat yang menambahkan kesimpulan pribadi tanpa dasar.
- Judul ringkasan menggambarkan isinya, bukan dibuat lebih heboh dari kenyataan.
Kalau ada bagian yang kamu tidak yakin, tulis bahwa informasinya masih berkembang. Pembaca lebih menghargai kejujuran seperti itu daripada ringkasan yang terlihat lengkap tapi berisi dugaan.
Kesalahan yang sering dilakukan pemula
Menyalin seluruh isi siaran ke dalam tulisan adalah kesalahan paling umum. Ringkasan gunanya memadatkan, bukan memindahkan. Kesalahan lain adalah mencampur beberapa peristiwa berbeda dalam satu bagian tanpa pemisah, sehingga pembaca bingung mana yang sedang dibahas.
Menulis dengan nada menghakimi juga sebaiknya dihindari. Gunakan kata kerja netral seperti “mengatakan”, “menyatakan”, atau “menolak berkomentar”. Hindari kata seperti “jelas bersalah” atau “tentu saja bohong” kecuali itu memang kutipan langsung dan disebutkan sumbernya.
Terakhir, jangan lupa menyebutkan sumber siaran. Menyebut nama program, kanal, dan tanggal tayang membantu pembaca melacak informasi aslinya kalau mereka ingin tahu lebih jauh.
Latihan yang mempercepat kemampuan merangkum
Kemampuan merangkum meningkat lewat pengulangan. Coba rangkum satu segmen berita setiap hari, lalu bandingkan hasilmu dengan catatan hari sebelumnya. Perhatikan apakah tulisanmu makin padat atau justru makin bertele-tele.
Bisa juga berlatih dengan merekam satu segmen pendek, menontonnya dua kali, lalu menulis ringkasan tanpa melihat catatan. Setelah selesai, cek kembali ke rekaman untuk melihat bagian mana yang keliru. Cara ini melatih ketelitian sekaligus kecepatan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa panjang ideal sebuah ringkasan berita TV?
Untuk satu peristiwa, sekitar 100 sampai 150 kata sudah cukup. Kalau siaran memuat banyak topik, pisahkan tiap topik dan beri panjang serupa agar seimbang. Ringkasan yang terlalu panjang justru sulit dibaca cepat.
Apakah boleh menambahkan pendapat pribadi dalam ringkasan?
Sebaiknya tidak, kecuali kamu memang menulis kolom opini yang jelas diberi label. Ringkasan berita sebaiknya berisi fakta dan klaim yang disertai sumber. Kalau ingin memberi penilaian, pisahkan dari bagian ringkasan agar pembaca tidak bingung.
Bagaimana kalau ada informasi yang belum terverifikasi?
Tulis apa adanya dengan keterangan bahwa informasi masih berkembang atau baru disampaikan satu pihak. Jangan menyimpulkan lebih jauh dari yang disebutkan di siaran. Kalau perlu, sebutkan bahwa pihak terkait belum memberi keterangan resmi.